Category: Pola Asuh Anak

Memberikan Pendidikan Seks Dini Bagi Anak

pendidikan untuk anak

Fungsi pendidikan seks dini bagi anak erat kaitannya dengan pergaulan saat usia dewasanya nanti. Sebagai orang tua, tentunya Anda diliputi banyak kekhawatiran mengenai lingkungan yang menjadi tempat anak untuk bersosialisasi nanti. Untuk mencegah dampak pergaulan bebas, sejak dini anak harus mengetahui batasan yang jelas dalam pergaulan. Sehingga saat berinteraksi dengan teman-temannya, anak bisa menjaga diri dari pergaulan bebas yang berdampak buruk.

  • Mengenalkan rasa malu
    Jangan menempatkan rasa malu sebagai sesuatu yang sangat buruk yang harus dihilangkan. Sebagai orang tua Anda harus mengetahui rasa malu yang seperti apa yang seharusnya dibuang sekaligus rasa malu seperti apa yang seharusnya ditanamkan pada anak. Sejak dini Anda harus menanamkan malu pada anak pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Misalnya tidak telanjang saat keluar dari kamar mandi atau tidak telanjang saat berganti pakaian. Meski masih kecil, anak harus mengetahui batasan bagian tubuhnya yang tidak boleh diperlihatkan pada orang lain. Sehingga anak akan merasa malu saat bagian tubuh tersebut dilihat orang lain.

  • Maskulin untuk laki-laki dan feminin untuk perempuan
    Sejak awal, Anda sebagai orang tua harus menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki sementara jiwa feminin bagi perempuan. Menanamkan jiwa maskulin dan feminin dapat dilakukan dengan memberikan baju yang sesuai untuk anak laki-laki demikian pula untuk anak perempuan. Jika anak laki-laki menggunakan celana, anak perempuan harus menggunakan rok atau baju untuk anak perempuan lainnya. Anak laki-laki dan perempuan harus diperlakukan selayaknya laki-laki dan selayaknya perempuan. Hal ini akan membuat anak mengerti sejak dini mengenai jiwa laki-laki dan perempuan mereka. Sehingga anak berperilaku sesuai dengan kodratnya sebagai anak laki-laki atau justru sebagai anak perempuan.

  • Menjaga dan membersihkan alat kelamin
    Anak harus mengetahui sejak awal bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda. Sehingga keduanya harus diberikan pendidikan seks dini yang berbeda pula termasuk keharusan menjaga dan membersihkan alat kelamin. Menjaga dan membersihkan alat kelamin ini harus dilakukan dengan benar sehingga tidak menyebabkan penyakit tertentu. Anak harus dilatih untuk membuang kotoran kecil dan besar pada toilet. Sehingga anak terbiasa untuk bersikap hati-hati dalam menjaga alat kelaminnya dari kotoran dan najis. Selain itu anak juga akan dilatih untuk menjaga kebersihan dan etika terutama dalam hal membuang hajat.

  • Mengenalkan anak tentang pubertas
    Dibandingkan anak laki-laki, pertumbuhan anak perempuan terjadi lebih cepat. Bahkan maturasi anak perempuan lebih cepat terjadi dibandingkan anak laki-laki. Sehingga sangat wajar jika anak perempuan lebih dulu mengalami menstruasi dibandingkan waktu baligh anak laki-laki. Tugas orang tua adalah mengenalkan anak mengenai masa-masa baligh anak laki-laki dan perempuan ini. Juga mengenai keharusan apa saja yang dilakukan saat masa baligh ini terjadi. Saat menstruasi, anak perempuan memiliki kewajiban untuk membersihkan diri dengan baik. Anak perempuan juga harus menjaga dirinya dari pergaulan bebas dengan lawan jenis. Demikian pula saat anak laki-laki mengalami mimpi basah, orang tua harus menjelaskan bagaimana kini dirinya harus menempatkan dirinya sebagai remaja yang bertanggung jawab. Tidak hanya perilakunya tapi juga pergaulannya dengan lawan jenis.

  • Menjaga diri dari lawan jenis
    Dalam pendidikan seks dini, anak harus dikenalkan siapa saja lawan jenis yang bukan walinya. Saat mengetahui lawan jenis yang bukan walinya, anak harus diberi pengertian untuk menjaga diri dari lawan jenis tersebut. Anak tidak boleh berdua saja dengan lawan jenis tersebut, anak tidak boleh bergaul sembarangan dengan lawan jenis tersebut dan anak harus menjaga dirinya dari lawan jenis tersebut. Orang tua juga harus memberitahukan batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan anak dengan lawan jenis tersebut. Sehingga anak dapat menjaga dirinya dari pergaulan bebas dengan lawan jenis. Dengan memberikan pendidikan seks dini bagi anak, dampak buruk pergaulan bebas juga dapat dicegah.

Buku Menumbuhkan Sikap Kritis Anak

buku menumbuhkan sikap kritis

Tidak sedikit orang tua yang ingin sukses menumbuhkan sikap kritis anak. Dengan sikap kritis ini, diharapkan anak dapat menyerap pelajaran dengan cepat. Selain itu sikap kritis ini menjadi modal dasar bagi anak sehingga kelak menjadi sosok yang inovatif seperti halnya para tokoh-tokoh besar dunia. Sayangnya tidak mudah menumbuhkan sikap kritis pada anak. Terutama bila mengingat bagaimana anak dikelilingi oleh lingkungan tumbuh yang tidak ideal.
Salah satu tokoh besar dunia, Steve Jobs mengatakan bahwa sosoknya sebagai penemu Apple lahir dari sikap kritis yang tidak bisa dibendungnya sejak kecil. Sikap kritis ini tidak lepas dari kebiasaannya membaca buku-buku yang bersifat fiksi ilmiah. Komik, dongeng, cerita pendek, novel hingga legenda yang sifatnya fiksi ilmiah telah membuat imajinasi mereka tidak terbendung. Anda juga dapat meniru mereka untuk membuat buah hati menjadi lebih kritis.

  • Memberikan bacaan yang disukai anak
    Mulai sekarang penuhi fasilitas untuk membaca bagi buah hati Anda. Fasilitas ini dapat berarti dengan memenuhi rak-rak buku di rumah dengan bacaan untuk anak. Atau Anda bisa membawa anak-anak ke toko buku dan perpustakaan terdekat. Biarkan anak memilih bacaan anak-anak yang disukainya. Jangan memaksakan kehendak dengan menentukan buku yang harus dibaca anak. Biasanya anak akan langsung mogok membaca.
    Orang tua memang tidak dibolehkan memaksa anak dan menentukan jenis buku yang boleh dibacanya. Meski begitu orang tua tetap harus memberikan batasan yang jelas kepada anak mengenai buku yang dapat atau tidak dibaca. Sebaiknya singkirkan buku-buku dewasa dari rak buku yang Anda berikan pada buah hati Anda. Berikan buku-buku yang sifatnya fiksi ilmiah sehingga sikap kritis anak dapat dilatih.
  • Membaca buku bersama
    Anak tidak akan pernah melakukan sesuatu jika tidak mendapatkan contoh dari orang tuanya. Untuk membuat anak memiliki sikap kritis dan suka membaca buku, Anda harus meluangkan waktu membaca buku dan menikmatinya bersama anak. Jika anak belum terlalu lancar membaca, Anda dapat membacakan buku tersebut untuk anak. Sebaliknya, jika anak sudah lancar membaca, Anda dapat memintanya untuk saling membaca bergantian dengan Anda.
    Membacakan buku untuk anak akan melatih anak menyukai membaca. Lebih dari itu meluangkan waktu membaca buku dengan anak akan membuat kedekatan Anda dengan anak semakin erat. Selain itu anak juga akan mencontoh kebiasaan Anda. Tanpa harus bicara panjang lebar dan nasihat berulang-ulang, Anda dapat menularkan kebiasaan membaca buku yang bermanfaat. Terbiasa membaca buku akan membuat sikap kritis anak mudah dipupuk.
  • Buat anak penasaran
    Saat Anda menemani anak membaca, jangan menjadi orang tua pasif yang menyerahkan semua pada anak. Jadilah orang tua yang proaktif memupuk sikap kritis pada anak. Setiap kali berganti beberapa halaman, cobalah untuk memancing rasa penasaran anak dengan melontarkan pertanyaan mengenai tokoh atau jalan cerita. Kira-kira habis ini Browni mau ngapain, ya? atau pertanyaan yang membuat tertarik seperti, Rubi teman atau musuhnya Browni, ya?. Pertanyaan-pertanyaan ini akan mendorong sikap kritisnya muncul.
    Jika selama Anda membaca cerita, anak mendapati sesuatu yang tidak dimengerti, cobalah untuk menahan jawaban Anda. Biarkan anak berpikir kritis dan membayangkan jawabannya sendiri. Jika mereka tidak memiliki jawaban, bantu dengan memberikan sedikit gambaran mengenai pertanyaan mereka. Saat buku yang Anda bacakan selesai, mintalah kepada anak untuk menempatkan dirinya sebagai tokoh dalam cerita. Apa yang mereka lakukan seandainya anak menjadi tokoh yang ada dalam cerita. Pengandaian-pengandaian ini akan melatih menumbuhkan sikap kritis anak.

Cara Mengajari Anak Disiplin Tanpa Marah

Cara Mengajari Anak Disiplin Tanpa Marah

Orang tua seringkali dibuat bingung saat harus mengajari anak disiplin. Biasanya kendala utama mengajari anak untuk disiplin adalah mengenai cara melakukannya. Saat orang tua melakukannya dengan lembut, anak susah dibuat mengerti. Sementara saat orang tua melakukannya dengan keras, anak justru merasa takut. Saat anak merasa takut, psikologisnya bisa tertekan. Sehingga usaha Anda mengajarkan disiplin tidak akan berhasil.
Mengajari anak disiplin tidak hanya berkaitan dengan anak. Sebagai orang tua, Anda juga harus melakukan usaha semaksimal mungkin untuk membuat buah hati mampu berdisiplin. Salah satu cara untuk memudahkan Anda mengajari anak disiplin adalah dengan menjalin kedekatan dengan anak. Anda tidak bisa memintanya disiplin sementara Anda sama sekali tidak dekat dengan anak. Selain menjalin kedekatan dengan anak, kelima hal berikut ini juga harus Anda lakukan untuk mengajari anak berdisiplin.

  • Memantau tumbuh kembang anak
    Saat menjadi orang tua, Anda tidak hanya harus mapan secara finansial. Anda juga harus mapan secara mental sehingga siap merawat sekaligus mendidik anak. Sebagai orang tua, Anda harus mengetahui setiap fase tumbuh kembang anak. Dengan mengetahui setiap fase tumbuh kembang anak, mengajarkan disiplin sejak dini dapat dilakukan dengan mudah. Semisal anak telah berusia 2 tahun, Anda dapat mulai mengajarinya disiplin dengan hal-hal kecil seperti membuka dan menutup tas sendiri. Anda juga dapat mulai mengajarinya untuk membuka dan menyimpan kaos kaki serta sepatu miliknya sendiri.

  • Memberikan apresiasi
    Apresiasi atau memberikan penghargaan sangat penting selama Anda mengajari disiplin pada anak. Saat anak melakukan hal yang Anda minta, orang tua harus menghargainya dengan memberikan pujian atau kata-kata positif lainnya. Saat anak berhasil memakai baju sendiri atau saat dia menyimpan sepatu di rak sepatu, Anda harus memujinya dengan baik. Sehingga anak senang dan tidak keberatan untuk melakukan hal baik tersebut berulang-ulang. Jika selama proses belajar disiplin ini, anak melakukannya lebih lama, Anda harus tetap menghargainya. Berikan kesempatan pada anak untuk bisa melakukannya dengan cepat dan benar. Jangan membantunya jika Anda merasa anak terlalu lama melakukannya. Tuntunlah anak untuk melakukannya dengan baik dan cepat.

  • Berikan batasan
    Saat orang tua menerapkan disiplin, Anda juga sekaligus harus membuat aturan dan batasan yang jelas. Aturan dan batasan ini harus Anda jelaskan kepada anak selama mengajarinya disiplin. tidak perlu melakukannya dengan keras, cukup sampaikan pelan-pelan secara bertahap. Anda sebagai orang tua tidak serta merta menerapkan disiplin tanpa belajar. Demikian pula dengan batasan yang Anda buat juga harus dimengerti anak secara bertahap pelan-pelan. Sehingga anak tidak sembarangan saat menerapkan disiplin melainkan dengan aturan dan batasan yang Anda berikan.

  • Orang tua sebagai contoh
    Mengajari anak disiplin tidak hanya dengan kata-kata. Nasihat berulang-ulang saja juga tidak cukup dilakukan untuk mengajari anak disiplin. Anda sebagai orang tua harus menjadi contoh nyata bagaimana disiplin dilakukan. Berikan contoh dengan baik bagaimana disiplin diri sendiri dilakukan. Semisal dengan menyimpan sepatu pada rak sepatu. Atau menyimpan topi dan dasi sekolah di tempat yang telah ditentukan. Bagi anak, contoh yang diberikan orang tua berulang-ulang akan lebih lama tersimpan dan membekas. Mereka akan meniru contoh yang diberikan orang tua dan membuat dirinya secara otomatis disiplin.

  • Pembiasaan
    Pelajaran yang dilakukan dengan pembiasaan akan lebih mudah dilakukan. Anda dapat menggunakan cara pembiasaan ini untuk mengajari anak disiplin. Satu sikap disiplin yang dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang membuat anak melakukannya hingga dewasa. Misalnya Anda ingin mengajari anak cara melepaskan sepatu dan menyimpannya di rak sepatu, Anda dapat mencontohkannya langsung. Lakukan hal tersebut berulang-ulang keesokan harinya dan seterusnya setiap kali anak pulang sekolah. Secara tidak langsung mengajari anak disiplin ini akan menjadi kebiasaan yang dilakukan anak setiap hari hingga dewasa.

4 Cara Membuat Anak Percaya Diri Bergaul Dengan Temannya

4 Cara Membuat Anak Percaya Diri Bergaul Dengan Temannya

Menemukan cara membuat anak percaya diri tidaklah mudah. Terutama ketika anak harus bergaul dengan teman-temannya yang sebaya. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa buah hati mereka tumbuh menjadi sosok pemalu dan tidak percaya diri saat berinteraksi dengan teman dan lingkungannya. Karena selama di rumah, anak justru menunjukkan perilaku sebaliknya. Saat berada di rumah, anak justru menunjukkan sikap dan rasa percaya diri yang normal.
Sifat pemalu yang menyebabkan rasa tidak percaya diri tentunya berbahaya jika dibiarkan. Terutama bagi anak yang telah memasuki usia pra sekolah atau usia sekolah. Malu dan tidak percaya diri akan menyebabkan buah hati Anda menolak untuk berinteraksi dengan teman dan gurunya. Saat anak malu berinteraksi, bisa dipastikan dia juga akan kesulitan melakukan sosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitarnya. Untuk membuat rasa percaya dirinya muncul, beberapa hal berikut ini dapat Anda lakukan selama merawat buah hati Anda:

  • Gambaran yang baik tentang anak
    Rasa percaya diri anak bisa muncul jika Anda sebagai orang tua memupuknya sejak dini. Memupuk rasa percaya diri anak bisa dilakukan dengan cara memberikan gambaran yang baik mengenai dirinya. Gambaran yang baik ini dapat berupa penghargaan hingga rasa bangga yang Anda miliki sebagai orang tuanya. Memberikan pujian dan kata-kata positif saat anak melakukan hal terpuji juga dapat memupuk rasa percaya diri anak. Dengan kata-kata pujian yang sifatnya positif ini, rasa percaya diri anak akan mudah sekali tumbuh. Bahkan rasa percaya diri yang telah tumbuh ini dapat terus subur jika orang tua tidak berhenti untuk memberikan gambaran yang baik mengenai dirinya sebagai anak yang membanggakan orang tua.

  • Memberikan dorongan kepada anak
    Untuk bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, mengujinya untuk tampil di depan umum adalah sebuah keharusan. Tidak perlu tampil dengan jumlah penonton sangat banyak, cukup tampil di depan umum dalam skala kecil seperti di depan kelas. Atau tampil di panggung acara tahunan sekolah. Membuat anak berani tampil di depan umum harus dilakukan dengan memberikan dorongan kepada anak. Dorongan ini tentu harus dilakukan dengan positif sehingga sama sekali tidak memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Dorongan ini juga harus dilakukan terus-menerus sehingga anak yakin benar bahwa dirinya memiliki kemampuan cukup besar untuk tampil dan berinteraksi dengan teman dan gurunya.

  • Menanamkan displin
    Disiplin adalah salah satu kebiasaan baik yang erat kaitannya dengan usaha memupuk rasa percaya diri pada anak. Saat Anda sebagai orang tua menerapkan disiplin pada anak, secara tidak langsung buah hati Anda belajar menerapkan disiplin dalam kesehariannya. Selama menerapkan disiplin ini anak juga akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki keteraturan. Artinya anak akan dibuat mengerti mana hal yang tidak boleh dilakukan dan mana hal yang boleh dilakukan sesuai dengan disiplin yang Anda ajarkan. Kedisiplinan ini akan membuat anak menjadi sosok yang percaya diri dengan segala sikap baik yang dimilikinya. Dengan demikian anak tidak lagi kesulitan berinteraksi dengan temannya.

  • Menjadi teman untuk anak
    Memposisikan diri sebagai teman yang baik bagi anak tidaklah mudah. Namun saat anak masih berusia pra sekolah atau sekolah, seharusnya menjadi teman bagi anak tidaklah terlalu sulit. Jika Anda menjadi teman bagi buah hati Anda, akan terbuka peluang kedekatan antara orang tua dan anak. Kedekatan ini dapat berupa cerita, pertanyaan hingga mendiskusinya semua hal yang ingin Anda lakukan dengan buah hati Anda. Jangan lupa untuk selalu memberikan semangat dan dukungan saat Anda menjadi teman buah hati Anda. Cobalah untuk mulai sedikit demi sedikit memupuk rasa percaya dirinya dengan bercerita. Mendengar cerita anak sama saja dengan melatih rasa percaya dirinya tampil di depan orang tua. Dengan demikian cara membuat anak percaya diri yang telah Anda lakukan dapat membuahkan hasil.