Buku Menumbuhkan Sikap Kritis Anak

buku menumbuhkan sikap kritis

Tidak sedikit orang tua yang ingin sukses menumbuhkan sikap kritis anak. Dengan sikap kritis ini, diharapkan anak dapat menyerap pelajaran dengan cepat. Selain itu sikap kritis ini menjadi modal dasar bagi anak sehingga kelak menjadi sosok yang inovatif seperti halnya para tokoh-tokoh besar dunia. Sayangnya tidak mudah menumbuhkan sikap kritis pada anak. Terutama bila mengingat bagaimana anak dikelilingi oleh lingkungan tumbuh yang tidak ideal.
Salah satu tokoh besar dunia, Steve Jobs mengatakan bahwa sosoknya sebagai penemu Apple lahir dari sikap kritis yang tidak bisa dibendungnya sejak kecil. Sikap kritis ini tidak lepas dari kebiasaannya membaca buku-buku yang bersifat fiksi ilmiah. Komik, dongeng, cerita pendek, novel hingga legenda yang sifatnya fiksi ilmiah telah membuat imajinasi mereka tidak terbendung. Anda juga dapat meniru mereka untuk membuat buah hati menjadi lebih kritis.

  • Memberikan bacaan yang disukai anak
    Mulai sekarang penuhi fasilitas untuk membaca bagi buah hati Anda. Fasilitas ini dapat berarti dengan memenuhi rak-rak buku di rumah dengan bacaan untuk anak. Atau Anda bisa membawa anak-anak ke toko buku dan perpustakaan terdekat. Biarkan anak memilih bacaan anak-anak yang disukainya. Jangan memaksakan kehendak dengan menentukan buku yang harus dibaca anak. Biasanya anak akan langsung mogok membaca.
    Orang tua memang tidak dibolehkan memaksa anak dan menentukan jenis buku yang boleh dibacanya. Meski begitu orang tua tetap harus memberikan batasan yang jelas kepada anak mengenai buku yang dapat atau tidak dibaca. Sebaiknya singkirkan buku-buku dewasa dari rak buku yang Anda berikan pada buah hati Anda. Berikan buku-buku yang sifatnya fiksi ilmiah sehingga sikap kritis anak dapat dilatih.
  • Membaca buku bersama
    Anak tidak akan pernah melakukan sesuatu jika tidak mendapatkan contoh dari orang tuanya. Untuk membuat anak memiliki sikap kritis dan suka membaca buku, Anda harus meluangkan waktu membaca buku dan menikmatinya bersama anak. Jika anak belum terlalu lancar membaca, Anda dapat membacakan buku tersebut untuk anak. Sebaliknya, jika anak sudah lancar membaca, Anda dapat memintanya untuk saling membaca bergantian dengan Anda.
    Membacakan buku untuk anak akan melatih anak menyukai membaca. Lebih dari itu meluangkan waktu membaca buku dengan anak akan membuat kedekatan Anda dengan anak semakin erat. Selain itu anak juga akan mencontoh kebiasaan Anda. Tanpa harus bicara panjang lebar dan nasihat berulang-ulang, Anda dapat menularkan kebiasaan membaca buku yang bermanfaat. Terbiasa membaca buku akan membuat sikap kritis anak mudah dipupuk.
  • Buat anak penasaran
    Saat Anda menemani anak membaca, jangan menjadi orang tua pasif yang menyerahkan semua pada anak. Jadilah orang tua yang proaktif memupuk sikap kritis pada anak. Setiap kali berganti beberapa halaman, cobalah untuk memancing rasa penasaran anak dengan melontarkan pertanyaan mengenai tokoh atau jalan cerita. Kira-kira habis ini Browni mau ngapain, ya? atau pertanyaan yang membuat tertarik seperti, Rubi teman atau musuhnya Browni, ya?. Pertanyaan-pertanyaan ini akan mendorong sikap kritisnya muncul.
    Jika selama Anda membaca cerita, anak mendapati sesuatu yang tidak dimengerti, cobalah untuk menahan jawaban Anda. Biarkan anak berpikir kritis dan membayangkan jawabannya sendiri. Jika mereka tidak memiliki jawaban, bantu dengan memberikan sedikit gambaran mengenai pertanyaan mereka. Saat buku yang Anda bacakan selesai, mintalah kepada anak untuk menempatkan dirinya sebagai tokoh dalam cerita. Apa yang mereka lakukan seandainya anak menjadi tokoh yang ada dalam cerita. Pengandaian-pengandaian ini akan melatih menumbuhkan sikap kritis anak.

Cara Mengajari Anak Disiplin Tanpa Marah

Cara Mengajari Anak Disiplin Tanpa Marah

Orang tua seringkali dibuat bingung saat harus mengajari anak disiplin. Biasanya kendala utama mengajari anak untuk disiplin adalah mengenai cara melakukannya. Saat orang tua melakukannya dengan lembut, anak susah dibuat mengerti. Sementara saat orang tua melakukannya dengan keras, anak justru merasa takut. Saat anak merasa takut, psikologisnya bisa tertekan. Sehingga usaha Anda mengajarkan disiplin tidak akan berhasil.
Mengajari anak disiplin tidak hanya berkaitan dengan anak. Sebagai orang tua, Anda juga harus melakukan usaha semaksimal mungkin untuk membuat buah hati mampu berdisiplin. Salah satu cara untuk memudahkan Anda mengajari anak disiplin adalah dengan menjalin kedekatan dengan anak. Anda tidak bisa memintanya disiplin sementara Anda sama sekali tidak dekat dengan anak. Selain menjalin kedekatan dengan anak, kelima hal berikut ini juga harus Anda lakukan untuk mengajari anak berdisiplin.

  • Memantau tumbuh kembang anak
    Saat menjadi orang tua, Anda tidak hanya harus mapan secara finansial. Anda juga harus mapan secara mental sehingga siap merawat sekaligus mendidik anak. Sebagai orang tua, Anda harus mengetahui setiap fase tumbuh kembang anak. Dengan mengetahui setiap fase tumbuh kembang anak, mengajarkan disiplin sejak dini dapat dilakukan dengan mudah. Semisal anak telah berusia 2 tahun, Anda dapat mulai mengajarinya disiplin dengan hal-hal kecil seperti membuka dan menutup tas sendiri. Anda juga dapat mulai mengajarinya untuk membuka dan menyimpan kaos kaki serta sepatu miliknya sendiri.

  • Memberikan apresiasi
    Apresiasi atau memberikan penghargaan sangat penting selama Anda mengajari disiplin pada anak. Saat anak melakukan hal yang Anda minta, orang tua harus menghargainya dengan memberikan pujian atau kata-kata positif lainnya. Saat anak berhasil memakai baju sendiri atau saat dia menyimpan sepatu di rak sepatu, Anda harus memujinya dengan baik. Sehingga anak senang dan tidak keberatan untuk melakukan hal baik tersebut berulang-ulang. Jika selama proses belajar disiplin ini, anak melakukannya lebih lama, Anda harus tetap menghargainya. Berikan kesempatan pada anak untuk bisa melakukannya dengan cepat dan benar. Jangan membantunya jika Anda merasa anak terlalu lama melakukannya. Tuntunlah anak untuk melakukannya dengan baik dan cepat.

  • Berikan batasan
    Saat orang tua menerapkan disiplin, Anda juga sekaligus harus membuat aturan dan batasan yang jelas. Aturan dan batasan ini harus Anda jelaskan kepada anak selama mengajarinya disiplin. tidak perlu melakukannya dengan keras, cukup sampaikan pelan-pelan secara bertahap. Anda sebagai orang tua tidak serta merta menerapkan disiplin tanpa belajar. Demikian pula dengan batasan yang Anda buat juga harus dimengerti anak secara bertahap pelan-pelan. Sehingga anak tidak sembarangan saat menerapkan disiplin melainkan dengan aturan dan batasan yang Anda berikan.

  • Orang tua sebagai contoh
    Mengajari anak disiplin tidak hanya dengan kata-kata. Nasihat berulang-ulang saja juga tidak cukup dilakukan untuk mengajari anak disiplin. Anda sebagai orang tua harus menjadi contoh nyata bagaimana disiplin dilakukan. Berikan contoh dengan baik bagaimana disiplin diri sendiri dilakukan. Semisal dengan menyimpan sepatu pada rak sepatu. Atau menyimpan topi dan dasi sekolah di tempat yang telah ditentukan. Bagi anak, contoh yang diberikan orang tua berulang-ulang akan lebih lama tersimpan dan membekas. Mereka akan meniru contoh yang diberikan orang tua dan membuat dirinya secara otomatis disiplin.

  • Pembiasaan
    Pelajaran yang dilakukan dengan pembiasaan akan lebih mudah dilakukan. Anda dapat menggunakan cara pembiasaan ini untuk mengajari anak disiplin. Satu sikap disiplin yang dilakukan terus-menerus dan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang membuat anak melakukannya hingga dewasa. Misalnya Anda ingin mengajari anak cara melepaskan sepatu dan menyimpannya di rak sepatu, Anda dapat mencontohkannya langsung. Lakukan hal tersebut berulang-ulang keesokan harinya dan seterusnya setiap kali anak pulang sekolah. Secara tidak langsung mengajari anak disiplin ini akan menjadi kebiasaan yang dilakukan anak setiap hari hingga dewasa.

4 Cara Membuat Anak Percaya Diri Bergaul Dengan Temannya

4 Cara Membuat Anak Percaya Diri Bergaul Dengan Temannya

Menemukan cara membuat anak percaya diri tidaklah mudah. Terutama ketika anak harus bergaul dengan teman-temannya yang sebaya. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa buah hati mereka tumbuh menjadi sosok pemalu dan tidak percaya diri saat berinteraksi dengan teman dan lingkungannya. Karena selama di rumah, anak justru menunjukkan perilaku sebaliknya. Saat berada di rumah, anak justru menunjukkan sikap dan rasa percaya diri yang normal.
Sifat pemalu yang menyebabkan rasa tidak percaya diri tentunya berbahaya jika dibiarkan. Terutama bagi anak yang telah memasuki usia pra sekolah atau usia sekolah. Malu dan tidak percaya diri akan menyebabkan buah hati Anda menolak untuk berinteraksi dengan teman dan gurunya. Saat anak malu berinteraksi, bisa dipastikan dia juga akan kesulitan melakukan sosialisasi dengan teman dan lingkungan sekitarnya. Untuk membuat rasa percaya dirinya muncul, beberapa hal berikut ini dapat Anda lakukan selama merawat buah hati Anda:

  • Gambaran yang baik tentang anak
    Rasa percaya diri anak bisa muncul jika Anda sebagai orang tua memupuknya sejak dini. Memupuk rasa percaya diri anak bisa dilakukan dengan cara memberikan gambaran yang baik mengenai dirinya. Gambaran yang baik ini dapat berupa penghargaan hingga rasa bangga yang Anda miliki sebagai orang tuanya. Memberikan pujian dan kata-kata positif saat anak melakukan hal terpuji juga dapat memupuk rasa percaya diri anak. Dengan kata-kata pujian yang sifatnya positif ini, rasa percaya diri anak akan mudah sekali tumbuh. Bahkan rasa percaya diri yang telah tumbuh ini dapat terus subur jika orang tua tidak berhenti untuk memberikan gambaran yang baik mengenai dirinya sebagai anak yang membanggakan orang tua.

  • Memberikan dorongan kepada anak
    Untuk bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, mengujinya untuk tampil di depan umum adalah sebuah keharusan. Tidak perlu tampil dengan jumlah penonton sangat banyak, cukup tampil di depan umum dalam skala kecil seperti di depan kelas. Atau tampil di panggung acara tahunan sekolah. Membuat anak berani tampil di depan umum harus dilakukan dengan memberikan dorongan kepada anak. Dorongan ini tentu harus dilakukan dengan positif sehingga sama sekali tidak memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Dorongan ini juga harus dilakukan terus-menerus sehingga anak yakin benar bahwa dirinya memiliki kemampuan cukup besar untuk tampil dan berinteraksi dengan teman dan gurunya.

  • Menanamkan displin
    Disiplin adalah salah satu kebiasaan baik yang erat kaitannya dengan usaha memupuk rasa percaya diri pada anak. Saat Anda sebagai orang tua menerapkan disiplin pada anak, secara tidak langsung buah hati Anda belajar menerapkan disiplin dalam kesehariannya. Selama menerapkan disiplin ini anak juga akan tumbuh menjadi sosok yang memiliki keteraturan. Artinya anak akan dibuat mengerti mana hal yang tidak boleh dilakukan dan mana hal yang boleh dilakukan sesuai dengan disiplin yang Anda ajarkan. Kedisiplinan ini akan membuat anak menjadi sosok yang percaya diri dengan segala sikap baik yang dimilikinya. Dengan demikian anak tidak lagi kesulitan berinteraksi dengan temannya.

  • Menjadi teman untuk anak
    Memposisikan diri sebagai teman yang baik bagi anak tidaklah mudah. Namun saat anak masih berusia pra sekolah atau sekolah, seharusnya menjadi teman bagi anak tidaklah terlalu sulit. Jika Anda menjadi teman bagi buah hati Anda, akan terbuka peluang kedekatan antara orang tua dan anak. Kedekatan ini dapat berupa cerita, pertanyaan hingga mendiskusinya semua hal yang ingin Anda lakukan dengan buah hati Anda. Jangan lupa untuk selalu memberikan semangat dan dukungan saat Anda menjadi teman buah hati Anda. Cobalah untuk mulai sedikit demi sedikit memupuk rasa percaya dirinya dengan bercerita. Mendengar cerita anak sama saja dengan melatih rasa percaya dirinya tampil di depan orang tua. Dengan demikian cara membuat anak percaya diri yang telah Anda lakukan dapat membuahkan hasil.

Mengajari Anak Bermain Gadget Tanpa Ketagihan

Mengajari Anak Bermain Gadget Tanpa Ketagihan

Di zaman teknologi seperti sekarang, mendapati anak bermain gadget tidak dapat dihindari. Dibandingkan dulu, kecerdasan anak sekarang memang luar biasa. Hal-hal yang dulu tidak bisa Anda lakukan saat seusianya, justru dengan mudah dilakukan oleh anak. Tidak terkecuali saat anak bermain dengan gadget milik Anda. Mengingat gadget merupakan teknologi yang sangat mudah dilakukan, anak juga memiliki akses yang sangat mudah untuk memainkannya.
Bermain gadget tidak selalu membawa dampak buruk pada anak. Dengan pengaturan tertentu, gadget menjadi sarana pembelajaran yang cukup efektif. Namun akan menjadi masalah jika buah hati Anda justru ketagihan bermain gadget. Ketagihan gadget dapat menghambat kemampuan bersosialisasi dengan teman dan lingkungannya. Untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi, mengajari anak bermain gadget dengan bijaksana harus dilakukan sejak dini. Sehingga saat anak mulai mengenal gadget, fase tumbuh kembangnya sama sekali tidak terganggu.

  • Tetapkan usia anak
    Pendidikan pada anak tidak bisa dilakukan secara sepihak oleh ibu saja. Bapak juga harus mengambil bagian dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak termasuk mengenai gadget ini. Sejak awal buatlah kesepakatan dengan pasangan, mulai umur berapa anak dikenalkan pada gadget. Karena tidak selamanya gadget bisa terus disembunyikan dari anak. Perkembangan teknologi yang tidak terbendung juga akan membuat orang tua semakin sulit  untuk menyembunyikannya dari anak.
    Usia paling tepat anak bermain gadget adalah, saat anak mulai mengetahui fungsi gadget itu sendiri. Anda dapat memulainya saat anak masuk usia sekolah, sehingga anak cukup mengerti cara menggunakannya. Sebaiknya hindari mengenalkan gadget saat anak berusia pra sekolah atau bahkan sebelum sekolah. Saat usia sebelum sekolah dan pra sekolah, anak lebih membutuhkan mainan edukatif yang merangsang kemampuan sensorik, motorik dan psikomotoriknya.

  • Dampingi saat memakai gadget
    Saat semua akses informasi semudah sekarang, orang tua bisa jadi kalah cerdas dengan anak. Saat Anda belum mengenalkan gadget, anak bisa jadi lebih pandai bermain gadget. Karena itu saat Anda mulai mengajarkan cara bermain gadget pada anak, dampingi. Bahkan ketika anak telah bisa mengoperasikan sendiri gadget, Anda harus tetap melakuan pendampingan. Fungsi pendampingan ini bukanlah untuk memata-matai melainkan untuk melakukan kendali.
    Duduklah di sebelah anak saat Anda melakukan pendampingan. Katakan dengan lembut apa yang tidak boleh dilakukannya saat bermain gadget. Berikan pengertian mengenai banyak hal yang bisa dilakukannya dengan gadget. Ingatkan pada anak setiap bahaya dan manfaat yang bisa didapatkannya saat bermain gadget. Dengan demikian anak akan lebih mengerti dan bijaksana dalam menggunakan gadget. Saat anak mengerti, dirinya akan memiliki kendali untuk bermain gadget seperlunya saja.

  • Batasan waktu
    Tidak hanya bagi anak, bahkan bagi orang tua, bermain gadget dapat menimbulkan ketagihan. Untuk menghindari bermain gadget yang dapat menimbulkan ketagihan, Anda harus memberikan batasan waktu. Pemberian batasan waktu ini penting diberikan untuk mengendalikan pemakaian gadget. Saat waktu pemakaian dibatasi, secara tidak langsung anak akan memanfaatkan waktu tersebut untuk menggunakan gadget seefektif mungkin. Kegiatannya bermain gadget dilakukan untuk keperluan yang dianggapnya penting saja.
    Waktu ideal untuk anak bermain gadget adalah dua jam. Berikan batasan waktu bermain gadget selama 2 jam saja. Bermain gadget lebih dari dua jam akan membuat anak menggunakannya untuk kepentingan lain yang tidak bermanfaat. Lebih dari itu, memainkan gadget selama lebih dari dua jam akan membuat penglihatan anak terganggu. Batasi juga harinya semisal pada saat akhir pekan saja atau saat ada pekerjaan rumah yang mengharuskannya menggunakan gadget. Hal ini akan meminimalisir akibat buruk anak bermain gadget.